Tumutan7 Hadirkan Peracik Kopi Langsung dari Semendo

0
378

“Minum kopi Tumutan7 maka Anda membantu melestarikan hutan dan petani kopi,”

Semende sudah cukup dikenal oleh kalangan penikmat kopi. Aromanya khas dan harganya tak bakal bikin kantong jebol.

Lebih nikmat lagi, peracik atau kita kenal sebagai barista didatangkan langsung dari kampung-kampung yang ada di lereng bukit Tumutan Tujuh, Muara Enim, Sumatera Selatan. Barista Ridho, seorang anak petani kopi Semendo, yang saat ini kuliah di UIN Raden Fatah jurusan jurnalistik adalah seorang Barista yang sempat mencuri perhatian peserta “Sarasehan Masyarakat Perhutanan Sosial dan Rakor Pokja PPS Sumsel”.

Aidil Fikri, fasilitator dari Hutan Kita atau HaKI menjelaskan kopi yang mereka sajikan didatangkan dan diolah langsung dari desa-desa di Semende. Salah satu desa yang dikenal sebagai penyedia kopi jenis Robusta dan Arabica ini adalah Desa Cahaya Alam yang masuk dalam cakupan 900 hektar lahan perhutanan sosial.

“Minum kopi ini juga berarti Anda membantu melestarikan hutan dan petani kopi,” kata Aidil, Senin, 1 April 2019. Dulunya, penduduk di lereng bukit Tumutan Tujuh memproduksi kopi secara sembunyi-sembunyi karena mereka menggarap lahan yang masuk kawasan hutan lindung. Namun sejak 2015, mereka lebih leluasa melakukan proses produksi karena sekitar 900 hektar tersebut berubah fungsi menjadi perhutanan sosial. “Penggunaan pupuk dan penggendali hama kimiawi juga dikurangi,” ujarnya.

Rido dan Arya peracik kopi muda asal semendo

Belakangan ini, menurut Aidil, pengelolaan kopi mulai mengikuti tren karena mendapat pendampingan dari para ahli pertanian dan ahli kopi. Kalau dulu petani memanen secara sembarangan, sekarang petani hanya memetik buah yang telah merah. Demikian juga dengan proses pengeringan, penggilingan, dan pengemasan mulai mendapat sentuhan modernisasi tanpa melupakan kearifan lokal.

Penulis : EEP HaKI

Editor : JUA HaKI