Perubahan iklim sering dipahami sebagai persoalan cuaca, teknologi, atau besarnya emisi karbon. Namun, di tingkat desa, persoalannya jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika musim kemarau datang lebih panjang, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk tetap memenuhi kebutuhan pangan, menjaga sumber air, dan mempertahankan penghidupan keluarganya.

Karena itu, membangun ketahanan terhadap El Niño tidak cukup dilakukan melalui pembangunan infrastruktur atau bantuan ketika bencana terjadi. Ketahanan juga dibangun melalui hubungan antarmanusia, cara masyarakat mengelola lahan, serta kemampuan mereka belajar dari pengalaman dan berbagi pengetahuan.

Di 12 desa sekitar KHG Saleh Sugihan Kabupaten Banyuasin dan 12 desa di KPH Lalan Banyuasin,  pendekatan inilah yang dipakai oleh Konsorsium HaKI-Land4lives yang terdiri dari Hutan Kita Institute (HaKI), Forum DAS dan Plantari. Bersama masyarakat, Konsorsium HaKI mendampingi pembangunan Kebun Belajar dan Kebun Dapur dengan pendekatan ilmiah seperti Climate Smart Agriculture/Pertanian Cerdas Iklim yang dikembangkan oleh CIFOR-ICRAF/Landscape Alliance.

Kebun Belajar dan Kebun Dapur bukan sekadar tempat menanam tanaman, melainkan ruang belajar bersama, tempat masyarakat mencoba berbagai praktik agroforestri, mengembangkan pupuk organik, menanam beragam jenis tanaman, serta mendiskusikan pengalaman mereka menghadapi musim yang semakin sulit diprediksi.

Yang menarik, solusi yang dikembangkan tidak seluruhnya berasal dari luar desa. Sebagian besar justru lahir dari pengalaman masyarakat sendiri. Pengetahuan tentang waktu tanam, pemilihan tanaman yang tahan terhadap musim kering, cara memanfaatkan pekarangan, hingga kebiasaan saling membantu antarwarga dipadukan dengan pendekatan ilmiah seperti Pertanian Cerdas Iklim. Ilmu pengetahuan modern bertemu dengan pengetahuan lokal bukan untuk saling menggantikan, tetapi saling menguatkan.

Di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks, tidak ada lagi satu solusi yang mampu menjawab semua persoalan. Pengalaman setiap desa berbeda, begitu pula tantangan yang mereka hadapi. Karena itu, ketahanan iklim tidak dibangun melalui pendekatan yang seragam, melainkan melalui kemampuan masyarakat untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi bentang alamnya masing-masing.

Restorasi bentang alam tidak hanya berarti memulihkan hutan dan menjaga tinggi muka air gambut. Restorasi juga berarti memperkuat kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan lingkungan. Ketika masyarakat memiliki ruang untuk belajar, bekerja sama, dan mengembangkan pengetahuan mereka sendiri, maka ketahanan terhadap El Niño tidak lagi hanya bergantung pada cuaca, tetapi juga pada kekuatan sosial yang tumbuh dari dalam desa.

Penulis : Henni Martini

Previous articleHaKI Gelar Rapat Tahunan Dewan Anggota 2026