Menu

    Kabar Baik untuk Warga Palembang! Sampah Kita Ternyata Emas!

    Hutan Kita Institute (HaKI) bersama Unika Musi Charitas menemukan bahwa masalah sampah di Kota Palembang bisa diubah menjadi solusi energi dan uang. Intinya, sampah yang selama ini menumpuk di TPA ternyata punya potensi senilai Rp 1,97 Triliun!

    1. Masalah Besar yang Kita Hadapi

    Setiap hari, Palembang membuang sekitar 1.200 ton sampah. Sampah ini ditumpuk begitu saja (open dumping) di TPA Sukawinatan dan Keramasan.

    • Penyebab Polusi: Sampah organik (sisa makanan) yang menumpuk membusuk dan melepaskan gas metana. Gas ini adalah polusi udara yang 25 kali lebih jahat daripada CO2 dan memperburuk pemanasan global.
    • Potensi Kerugian: Jika ini dibiarkan, kerugian lingkungannya dinilai setara 65.888ton CO2 e , atau setara potensi pendapatan Rp 1,97  Triliun yang terbuang.

    2. Solusi Murah, Manfaat Langsung ke Dapur Warga

    HaKI menemukan bahwa kita tidak perlu membangun pabrik sampah mahal ber-triliun-triliun rupiah untuk mengatasi masalah ini8. Solusinya justru ada di tingkat Rukun Warga (RW) dan Kelurahan, dengan teknologi yang murah dan sederhana:

    Jenis SampahTeknologi Solusi (Murah dan Sederhana)Manfaat Langsung untuk Warga
    Organik (Sisa Makanan, 40,8%)Biodigester Komunal (Tong tertutup)Menghasilkan GAS GRATIS untuk memasak (pengganti LPG 3kg). Potensinya setara dengan 2,3 juta tabung LPGsetahun!
    Anorganik (Plastik, 20,4%)RDF(Dibuat briket sampah)Briket ini dijual ke pabrik semen atau industri lain sebagai pengganti batu bara , menjadi sumber pendapatan bagi komunitas.

    3. Strategi Kunci: Kelompok Energi Mandiri Sampah (KEMS)

    Agar program ini berjalan lancar dan berkelanjutan, HaKI merekomendasikan pembentukan Kelompok Energi Mandiri Sampah (KEMS) di setiap RW/Kelurahan.

    • KEMS ini akan menjadi semacam “BUMDes Energi” lokal
    • Tugasnya: Mengelola Biodigester, menjual pupuk cair (sisa olahan Biodigester), dan mendistribusikan gas/token energi ke warga.
    • Intinya: Sampah berubah dari masalah sanitasi menjadi aset ekonomi yang menciptakan lapangan kerja lokal.

    4. HaKI Mendorong Pemerintah Ambil Langkah Cepat

    HaKI meminta Pemerintah Kota Palembang untuk segera:

    1. Stop Beli Alat Mahal: Lebih baik dana diarahkan untuk pengadaan Biodigester komunal dan mesin RDF sederhana.
    2. Permudah Aturan Gas Rakyat: Buat peraturan yang memudahkan komunitas mengalirkan gas hasil sampah (bio-methane) ke rumah-rumah tetangga tanpa birokrasi yang rumit.
    3. Jamin Pembeli: Fasilitasi kontrak agar briket sampah (RDF) yang diproduksi komunitas pasti dibeli oleh industri seperti PT Semen Baturaja.

    Dengan langkah ini, biaya operasional sampah kota akan turun, TPA menjadi lebih awet , dan Palembang bisa cepat mencapai target kota rendah karbon.

    More From Forest Beat

    Infografis: Capaian Perhutanan Sosial Sumsel 2024

    Sepanjang tahun 2024, pergerakan penerbitan izin atau capaian Progam Perhutanan Sosial 2024 Sumatera Selatan (Sumsel), berjalan lamban. Berdasarkan data dari Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan...
    infografis
    0
    minutes

    Karhutla Berulang-Ulang Tidak Bisa Dibiarkan 

    Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terulang lagi pada tahun 2023 ini. Kejadian Karhutla menjadi kejadian memprihatinkan, bukan hanya karena tingkat keparahannya namun karena banyak...
    infografis
    2
    minutes
    cerita dari hutan kita perhutanan sosial

    Pengembangan Usaha KPS Sumsel

    Perhutanan sosial memberi kesempatan kepada masyarakat hutan untuk mengelola kasawan hutan, dengan tetap menjaga kelestarian hutan masyarakat dapat melakukan kegiatan pengembangan usaha untk meningkatkan...
    Berita
    0
    minutes

    Potensi & Perkembangan Perhutanan Sosial di Sumatera Selatan per November 2021

    Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau Hutan Hak/Hutan Adat yang dilaksanakan oleh Masyarakat Setempat atau Masyarakat...
    Berita
    1
    minute
    spot_imgspot_img