Catatan Kejadian Banjir Bandang Sumatera Selatan
Banjir dan banjir bandang telah menjadi peristiwa yang berulang di Sumatera Selatan. Hampir setiap tahun, wilayah-wilayah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) utama mengalami genangan, luapan sungai, hingga aliran deras yang merusak rumah dan infrastruktur.
Dalam satu dekade terakhir, kejadian banjir tidak lagi terbatas pada musim hujan puncak. Genangan berlangsung lebih lama, ketinggian air meningkat, dan wilayah terdampak meluas hingga kawasan yang sebelumnya relatif aman.
Kabupaten seperti Musi Banyuasin, Musi Rawas, Ogan Komering Ulu, Ogan Ilir, Lahat, hingga Kota Palembang, berulang kali mencatat kejadian banjir dengan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan.
Banjir bandang juga tercatat terjadi di wilayah perbukitan dan hulu sungai, seperti Pagaralam dan Lahat. Berbeda dengan banjir biasa, banjir bandang datang secara tiba-tiba, membawa material lumpur, kayu, dan batuan. Air mengalir dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kerusakan berat dan trauma bagi masyarakat.
Sebut saja, banjir bandang yang melanda Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), September 2025 lalu. Hujan deras menguyur wilayah hulu, meningkatkan debit air sungai secara tiba-tiba, dan arus banjir menerjang pemukiman. Dilansir detikcom, banjir bandang ini melanda Desa Tanjung Harapan Kecamatan Sindang Danau, OKUS, sejumlah orang terbawa arus dan hilang serta rumah ikut terbawa arus banjir.
Kabupaten Lahat tidak luput dari banjir, tercatat pada Maret 2023 lalu, Sungai Lematang Meluap dengan arus deras menerjang pemukiman warga di pesisir sungai. Beberapa rumah warga dikabarkan rusak parah.
Bencana banjir lainnya, seperti dilansir Antara News, terjadi di Desa Kelumpang, Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten Ogan Komeirng Ulu, pada Maret 2019. Hujan deras dan air sungai meluap dengan arus yang menjadi deras merendam puluhan rumah. Walaupun tidak ada korban jiwa, banjir ini merupakan banjir terparah selama 15 tahun terakhir di daerah tersebut.
Kerusakan hutan daerah hulu Sumsel, seperti di daerah bukit barisan yang memiliki topografi berbukit dan lereng yang curam, menyebabkan aliran air hujan ekxtrim tidak mampu lagi diserap tanah dan langsung menuju lembah dan sungai.
Kerusakan hutan ini membuat daerah yang relative aman pun menjadi terancam. Seperti Kota Pagaralam di pegunungan Dempo tidak luput dari banjir. Kelurahan Beringin Jaya, Curup Jahe Pagaralam dilaporkan mengalami banjir andang pada Januari 2024 lalu.
Data kejadian menunjukkan bahwa karakter banjir di Sumatera Selatan telah berubah. Air tidak hanya meluap dari sungai, tetapi datang dari berbagai arah—lereng, lahan terbuka, dan kawasan yang kehilangan hutan. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem alami pengatur air semakin melemah. Banjir yang berulang ini bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan sinyal bahwa lanskap Sumsel sedang berada dalam tekanan. Ketika hujan yang sama menghasilkan dampak yang lebih besar dari tahun ke tahun, maka yang berubah bukanlah hujannya, melainkan kondisi wilayahnya. Catatan kejadian-kejadian tersebut sebagai pengingat, bahwa bencana yang terus berulang bukan kebetulan. Ia adalah pesan yang menunggu untuk dibaca lebih dalam. (*)







