Menguak Keberadaan Gajah Sumatera di Taman Nasional Sembilang

0
429
Tampak foto Gajah Sumatera Yang berhasil di abadikan tim HaKI, Foto : Boni HaKI

hutaninstitute.or.id_Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan pada tahun 2016 mempublikasikan delapan (8) kantong populasi gajah di Sumatera Selatan, diataranya kantung populasi Benakat Semanggus, Meranti, Sungai Kapas, Lalan, Jambul, Nanti, Patah, Mesuji, Saka Gunung Raya, Suban Jeriji, dan Sugihan. Kantong habitat populasi gajah yang ada, belum memasukkan kawasan Taman Nasional Sembilang (TNS)

Dimana ketahui dari beberapa laporan masyarakat di sekitar Taman Nasional Sembilang (TNS), bahwa wilayah yang paling sering terlihat penampakan Gajah Sumatera  adalah perkebunan sawit PT Raja Palma yang berbatas langsung dengan Taman Nasional Sembilang (TNS), secara administrasi masuk wilayah Desa Sungsang II, Kabupaten Banyuasin.

Semenjak pembukaan lahan di tahun 2010 pekerja PT Raja Palma, masyarakat sering berjumpa atau melihat gajah di wilayah tersebut, sampai saat ini pun gajah masih sering terlihat di wilayah tersebut.

Peta lokasi Pemantauan Gajah Sumatera, Data : By HaKI GIS

Beny Hidayat staf HaKI salah satu anggota pemantau gajah program TFCA berhasil mendapat bukti adanya keberadaan gajah Sumatera di TNS, Beny mengatakan dilihat perkembangannya, dengan semakin terbukanya hutan di sekitar TNS untuk transmigrasi perkebunan dan tanaman industri, menyebabkan semakin terbuka akses dan aktifitas di sekitar Taman Nasional Sembilang hal ini juga membuka peluang terbukanya informasi yang sebelumnya tidak diketahui seperti keberadaan gajah di Taman Nasional Sembilang.

Beny menambahkan dampak lainnya adalah fauna di wilayah tersebut semakin terdesak ke arah Taman Nasional Sembilang. Ini juga menjadi pertanyaan apakah Taman Nasional Sembilang merupakan habitat asli gajah atau tempat pelarian saja.

”selama ini keberadaan Gajah Sumetera di kawasan TNS masih tanda tanya karna tidak ada laporan atau pemantaun khusus mengenai gajah ini serta belum terpublikasnya artikel mengenai kebardaan ,” Ujarnya

 Dari pengamatan yang dilakukan TIM di wilayah Raja Palma yang berbatasan dengan Taman Nasional, anggota HaKI yang tergabung dalam Kibass bersama KSDA dan unsur-unsur terkait menemukan jejak dan kotoran gajah tersebar di wilayah tersebut. Hampir dipastikan gajah tersebut juga berada di Taman Nasional Sembilang, hal ini dapat dibuktikan dengan jejak gajah yang mengarah maupun dari Taman Nasional Sembilang.

Selain itu informasi lain dari karyawan PT Raja Palma yang enngan di sebutkan namanya mengatakan Selain jejak gajah, keberadaan gajah di Taman Nasional Sembilang dapat diduga dari keterangan pihak PT Raja Palma bahwa koloni gajah mempunyai periode tertentu di wilayah mereka atau keberadaan koloni gajah pada bulan-bulan tertentu saja,” Seingat saya paling sering pada saat musim penghujan,”ungkapa karyawan tersebut.

Dari informasi tersebut diduga pada bulan- bulan tertentu gajah berada di Taman Nasional Sembilang, mengingat hanya wilayah Taman Nasional Sembilang yang masih mempunyai tutupan lahan yang rapat, sedangkan wilayah lainnya di sekitar itu adalah wilayah terbuka dan daerah transmigrasi sehingga bila koloni gajah berada di daerah tersebut akan menjadi perhatian,

Samsul Bachri Polhut dari TNS mengatakan sebelum pemantau yang dilakukan pihak KiBASS bersama TNS, sampai saat ini belum ada laporan keberadaan koloni. Adapun laporan gajah di daerah transmigrasi hanya satu atau dua ekor itu pun dalam kurun waktu yang lama, satu kali dalam satu atau dua tahun.

”untuk laporan sendiri ada setiap kali ptroli rutin, baik itu laporan dari masyrakat dan penemuan jejak gajah serta kotoran gajah, tapi hany bersifat laporan biasa, dengan adaya pemantaun kita harapkan ada tidak lanjutnya,”ungkapnya.

Prasetyo Widodo kordinator program KiBASS mengatakan dari pengamatan tahap pertama pada tahun 2018 yang menemukan jejak gajah dari dan menuju Taman Nasional Sembilang, untuk lebih menguatkan tentang keberadaan Gajah Sumatera di Taman Nasional Sembilang.

Maka kita lakukan Pengamatan tahap II pada tahun 2019, dari pengamatan sebelumnya di 2018 hal ini dilakukan berdasar pengalaman sebelumnya yang hanya menemukan jejak dan kotoran gajah namun belum dapat mendokumentasikan gajah di wilayah tersebut,” Untuk pengamatan tahap II memakan waktu lebih lama yaitu 6 hari dengan  tambahan alat, menggunakan pesawat Drone dan kamera trap,”ujar prasetyo.

Yoga Trafo salah satu anggota tim pemantauan gajah mengatakan secara keseluruhan Tim berhasil mendapat 5 objek gajah yang terdokumentasikan di waktu dan tempat yang relatif berdekatan, dari 5 objek tersebut terdiri dari 4 individu yang berbeda dikenali dari ciri-ciri fisik masing-masing individu.

Objek Gajah yang tertangkap kamera dan kamera drone, Foto : Boni HaKI

Pemerhati gajah ini mengatakan satu ekor dengan ciri gading pendek ekor yang buntung, satu ekor dengan ciri gading kecil telinga yang sobek, satu ekor bertubuh besar dengan gading yang patah sebelah, dan satu ekor dengan ciri tidak mempunyai gading. Objek yang kelima sama dengan objek pertama, gajah dengan ekor buntung.

Dia menambahkan dengan adanya pemantauan ini, dimana kita berhasil membuktikan keberadaan gajah di dalam kawasan Taman Nasional Sembilang, dimana tim darat berhasil menemukan jejak dan kotoran gajah di dalam kawasan TN Sembilang serta dari kamera drone terlihat jalur gajah yang mengikuti aliran sungai dalam kawasan TN Sembilang tepatnya di alur Anak Sungai Bugis. Jalur tersebut terlihat bersih dari vegetasi, memanjang lebih dari 1KM kedalam kawasan TN Sembilang.

“ Jalur tersebut di penuhi jejak kaki gajah di beberapa titik dalam kondisi tanah yang basah menuju Taman Nasional Sembilang yang hutannya relatif lebih tertutup sehingga lebih aman sebagai tempat berlindung gajah,”Jelasnya.

Adiosyafri Maneger Program KiBASS menyimpulkan bahwa Jejak gajah ditemukan sepanjang perbatasan antara TN Sembilang dengan PT Raja Palma, jejak-jejak ini menyeberang atau melintas kanal. Hal ini menunjukkan bahwa gajah-gajah tersebut mempunyai aktivitas di dua tempat tersebut, atau bisa dikatakan wilayah TN Sembilang dan PT Raja Palma adalah habitat gajah.

“Gajah Sumatera memang benar berada di Taman Nasional Sembilang, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya jejak, jalur, kotoran dan kubangan gajah yang berada di Taman Nasional Sembilang dilihat dari dua pemantauan kemarin,”Tutupnya.

Studi Lanjutan dan Menjadi Usulan kantong Gajah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 + 4 =