Mengemas Potensi HHBK Madu di Kala Pandemi

0
436
Ilustrasi, Foto Istimewa

Dikutip dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mematok produksi hasil hutan bukan kayu (HHBK) atau produk nonkayu pada 2020 mencapai 718.847,97 ton dari baseline 2019 yang hanya 342.819,17 ton.

Pada waktu itu Johan Utama Perbatasari, Direktur Usaha Jasa Lingkungan dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) KLHK mengatakan bahwa saat ini produk nonkayu dan jasa lingkungan sedang dicanangkan untuk menjadi tulang punggung pembangunan kehutanan secara nasional.

Pasalnya, dia menambahkan, potensi produksi HHBK diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil produksi kayu bulat, tetapi sampai saat ini potensi-potensi tersebut belum terekspos secara masif.

Perkumpulan Hutan Kita Institute (HaKI) yang selama ini banyak mendampingi kegiatan pendampingan masyarakat teruma di Perhutanan Sosial dimana banyak sekali potensi HHBK yang sangat menjanjikan terutama HHBK madu alam yang banyak di hutan di sekitar Desa dampingan.

Pendamping masyarakat dari HaKI yaitu bernama Boni Bangun berhasil mengembangkan potensi HHBK madu ini.

Boni Bagun mengatakan permintaan masyarakat terhadap madu sialang produksi petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Peduli Api dusun VII, Muara Medak, dan kelompok binaan Haki yaitu kelompok Mang ijal Desa Pulai Gading.

Boni menambahkan permintaa madu meningkat signifikan di tengah pandemi COVID-19 dan setelah adanya perubahan kemasan yang selama ini mengunakan botol bekas sekarang di kemas dengan botol yang baru memenuhi standar dan bersegel,jadi bisa menjamin mutu madu

Kondisi Madu Sialang yang telah di kemas dengan botol yang baru dan higienies, Foto by Boni Haki

Omzet kelompok ini terus meningkat, bahkan pernah mencapai 5- 10 juta dalam sebulan. KTH dan Kelompok yang telah didampingi HaKI ini menjadi wadah bagi para petani yang menampung dan membantu memasarkan hasil panen madu mereka.

“Kami menerima pesanan madu dari Jakarta, Bogor, Pekan Baru, Jambi, Palembang serta jawa tengah  sebanyak lima ratus botol atau sekitar 400 kilogram pada setiap bulanya ,” ujar pak Nanang ketua kelempok Tani Hutan Peduli Api.

Salah satu kelompok Binaan Haki lainnya, Mang Ijal juga mengatakan saat HaKI menjalin kemitraan dengan masyarakat sekitar, konsep penjualan dan kemasan madu lebih menarik serta pengelolaannya lebih bersih, akibatnya penjualan  menjadi lebih lancar, Ia mengisahkan dahulu setiap panen madu seringkali sarang menjadi rusak bahkan mati.

“Agar semua petani dapat berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan madu, mereka mengatur jadwal pasokan, sehingga kelangsungan usaha para petani madu tetap terjaga,”ungkapanya

Boni Bangun lanjut mengatakan, awalnya petani madu hanya menjual madu murni pada tahun 2015 silam. Kemudian tahun 2019 mulai dilakukan pengolahan dan pengemasan modern tanpa mengurangi kemurniannya. Hal ini memberi nilai tambah kepada petani.

Madu olahan di kedua kelompok binaan HaKI ini diberi nama Madu Mang ijal untuk kelompok mang Ijal di desa Pulai Gading sedangkan untuk kelompok Tani Hutan Peduli Api ,kami beri merek KTPA Al-Barokah.

Tampak lebih menarik untuk di beli, madu alam yang dikemas dengan kondisi higienies, foto by Boni Haki

Direktur HaKi Aidil Fitri , mengatakan program petani madu dapat berkontribusi kepada di  tujuan pembangunan berkelanjutan untuk kelestarian alam khususnya hutan yang masing mempunyai tegakan pohon yang rapat serta mengali potensi produksi HHBK diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil produksi kayu bulat

“Jadi kita membantu pelatihan dan pendampingan masyarakat sehingga dapat memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan pendapatan atau mata pencaharian yang berkelanjutan. Diharapkan jiwa kewirausahaan masyarakat tumbuh, serta tetap mampu bertahan dalam keadaan krisis, seperti kondisi COVID-19 saat ini.” pungkasnya.

Teks/sumber : Jadid/Boni

Editor : JUA