Hutaninstitute.or.id       Hutan Adat Mude Ayek Tebat Benawa terletak di Dusun Tebat Benawa Kelurahan Penjalang Kecamatan Dempo Selatan Kota Pagar Alam. Dengan ketinggian rata-rata di atas 1200 meter dari permukaan laut dan luas areal 336 ha. Jarak antara lokasi hutan dengan pemukiman warga sekitar 4 km.

Lokasi ini merupakan hutan larangan yang sudah ada dan dipertahankan oleh para leluhur dari Dusun Tebat Benawa sejak dulu hingga sekarang. Hutan ini merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat setempat, terutama sebagai sumber air.  terdapat 4 mata air dari hutan larangan ini, yang menjadi sumber air dusun mereka. Warga Tebat Benawa yakin, bila hutan larangan ini rusak, maka mereka akan kesulitan memperoleh air.

Jenis pohon yang banyak tumbuh di hutan larangan ini adalah Rasamala, Meranti, Medang dan Kayu Lanang. Sementara itu satwa liar yang biasa dijumpai warga di hutan ini adalah Harimau, Siamang, Kijang dan Kambing Hutan. Jumlah penduduk Tebat Benawa sebanyak 230 KK dengan 916 jiwa. Hampir seluruh masyarakat yang berada di sekitar Hutan Adat tebat benawa memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti pengambilan Rotan, getah meranti, dan jernang. Rotan di kelola masyarakat menjadi kerajinan tangan, sedangkan jernang di jual oleh pengempul.

Infographic by EEB HaKI

Secara keseluruhan entitas Masyarakat Hukum Adat Besemah di Tebat Benawa adalah keturunan dari Puyang Kedum Samad, sang pendiri dusun peletak adat dan tradisi pegangan hidup. Puyang Kedum Samad adalah salah satu keturunan suku Besemah Kisah suku Besemah banyak yang belum diketahui dan belum tergali. Yang ada hanyalah cerita-cerita yang bersifat legenda atau mitos, yaitu mitos Atung Bungsu, yang merupakan salah satu di antara 7 orang anak raja Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di Dusun Benuakeling. Atung Bungsu menikah dengan putri Ratu Benua. Inilah cikal bakal orang Besemah, yang kini banyak mendiami daerah sekitar Pagaralam.

Sistem Kepemimpinan Masyarakat Hukum Adat Tebat Benawa

Kepemimpinan di Tebat Benawa yang tercatat dimulai dari tahun 1920-1980, Kepala Dusun itu disebut Riye. Pada tahun 1980-2002 Kepala Dusun disebut dengan Kepala Desa. Tahun 2002-2005, Kepala Dusun disebut kembali sebagai Kepala Dusun. Lalu sejak tahun 2005 sampaisekarang Kepala Dusun itu disebut sebagai Ketua RW.

Dalam kehidupan sehari-hari, Kepala Dusun atau Ketua RW ini menjadi seorang pemuka adat. Dalam hal musyawarah untuk pengambilan keputusan tentang sesuatu hal, Kepala Dusun akan menggelar musyawarah dan melibatkan para tokoh adat, tetua dusun dan berbagai unsur warga.