Greendhouse Solusi Petani Kopi Hadapi Pandemi Covid 19

0
861
Tampak Greenhouse yang di bagun di hutan Desa Cahaya alam Sumsel

hutaninstitute.or.id_Dunia saat ini sedang menghadapi pandemi covid-19. Pandemi ini tidak semata-mata berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga sosial ekonomi masyarakat. Di sektor pertanian, khususnya Petani Kopi. FAO sudah memperingatkan potensi krisis pangan global. Rantai pasokan pangan dunia juga terancam di tengah pemberlakuan karantina wilayah, pembatasan sosial, dan larangan perjalanan.

Pendamping Desa Dari  Perkumpulan Hutan Kita Institute (HaKI), Aidi Fikri Yang Sering Disapa Baba ini mengakui jika COVID-19 sangat berdampak bagi petani kopi terutama di wilayah penghasil seperti Muara Enim, Lahat, Pagaralam, hingga OKU Selatan.

Dengan segala pembatasan ini mengakibat stok yang melimpah, namun permintaan pasar berkurang. Apa lagi menjelang panen kopi yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat. Semakin menyulitkan petani lantaran Sulit menjual kopi mereka khusunya kopi petik merah.

Petani memanfaatkan greenhouse atasi kesulitan untuk menjual hasil panennya

“Memasuki musim panen akhir Mei  tadi dan Juni ini, kita menganjurkan petani tidak terburu-buru memetik kopi dengan cara petik pelangi. Tapi tunggu sampai kopi benar-benar matang atau petik merah, dan jangan dijual basah atau dalam bentuk glondongan. Upayakan diproses dan dijemur kering sehingga dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Saat COVID-19 berakhir serta harga sudah membaik dapat dijual kembali,” jelas Aidil

Kami sangat bersukur sebelum pandemi ini mewabah kami dari perkumpulan HaKI telah selesai membuat langkah yang tepat dengan membuat Greendhouse berukuran 5 x 7,5 yang terletak di Hutan Desa Cahaya Alam Semende ini akan segera kita aktifkan, ditengah masa pandemi covid-19 yang melanda dan berdampak pada harga kopi yg turun drastis, belum lagi para petani kesulitan untuk menjual hasil panennya.

“kami berinisiatif memfasilitasi hasil panen petani, paling tidak untuk sementara waktu petani bisa survive mengatasi persoalan ekonominya,”ungkapnya

Direktur Program HaKI Dedi Permana menambahkan Masa pandemi kali ini bertepatan dengan panen raya kopi arabika di wilayah Semende khususnya di hutan Desa Cahaya alam Sumsel, upaya untuk terus meningkatkan kualitas paska panen terus dilakukan, kami hanya bisa mengawal ini dari jarak jauh, penguasaan teknologi di tingkat petani memudahkan kami untuk terus berkomunikasi dan berdiskusi terkait proses yang dilakukan dihulu, semoga krisis ini cepat berlalu.

Menurut Dedi, menyimpan kopi menjadi langkah tepat sembari menunggu permintaan pasar kembali normal.

Selain itu Pembangunan Greendhouse Penjemuran kopi di hutan Desa Cahaya alam Sumsel merupakan bentuk keseriusan Haki dengan dukungan Ford Faundation dalam pemberdayaan masyarakat desa khususnya Perhutanan Sosial.

Salah satu petani Kopi di wilayah hutan desa Cahaya Alam Sarifudin mengatakan dia sangat menyambut baik dengan adanya fasilitas pasca panen khususnya Greendhouse, dengan adanya ini kami bisa fokus terhadap peningkatan kualitas pasca panen.

“ alhamdulllah semenjak berdirinya demplot agroforestry tata kelola dan sekolah lapang, yang di bangun hutan kita institute di hutan Desa Cahaya alam Sumsel, banyak memberikan informasi dan pengetahuan yang selam ini tidak kami bisa dapat,”tutupnya.

Teks : Jadid/Aidil Baba

Editor : Jadid