Cara Desa Dampingan HaKI Bertahan Dari Pandemi Covid 19

0
505

hutaninstitute.or.id_Pencegaan penanganan pandemi COVID-19 menjadi tugas bersama. Tidak terkecuali juga para Pemerintah yang terkecil yaitu Pemerintahan desa  serta Relawan Desa Tanggap COVID-19, mereka juga berperan menjadi garda depan di wilayah desa seluruh Indonesia. Dengan melihat kegigihan mereka dalam menghadapi pandemi ini, berikut penulis merangkum beberapa cerita dan catatan  dari desa dalam penagana Covid 19, terutama desa yang telah lama di dampingi Perkumpulan Hutan Kita institute.

Penjagaan pintu masuk ke area desa yang di lakukan masyrakat desa untuk menyetop mata rantai penularan virus covid 19. (sumber : Aparat desa Kepayang).

Desa Terpencil Waspadai Pandemi

Untuk cerita yang pertama kita ke desa Desa Sakosuban merupakan desa terpencil dan termasuk dalam katagori desa tertinggal yang berada kecamatan Batanghari Leko, kabupaten Musi Banyuasin. Letak desa yang berbatasan dengan kawasan Hutan Restorasi Ekosistem (RE) ini memiliki 3 wilayah dusun dengan jumlah penduduk kurang lebih 2.671 jiwa, Dikarenakan letak geografis desa sakosuban yang terisolir dan terpencil jauh dikawasan hutan juga akses jalan masuk kedalam desa membutuhkan perjuangan ekstra dikarenakan kondisi jalan yang rusak parah menjadi ‘Barrier’ yang  menguntungkan bagi masyarakat dalam menghambat penyebaran wabah virus COVID 19.

Namun aktifitas formal kegiatan antisipasi pencegahan wabah virus ini tetap dilakukan dengan melibatkan pemuka masyarakat, BPD dan pemerintahan desa. Sehingga dihasilkan beberapa poin kesepakatan yang intinya memantau pergerakan masyarakat yang masuk dan keluar dari desa walau belum sampai pada tahapan membuat posko COVID 19 dan melakukan penyemprotan desinfektan didesa.

Pemerintah desa juga telah membuat  himbauan kepada masyarakat dalam bentuk edaran yang ditempel dirumah- rumah  masyarakat berdasarkan hasil tindak lanjut telegram Bupati Musi Banyuasin,  Maklumat Kepolisian RI serta pengumuman Kapolsek Batanghari Leko yang menghimbau masyarakat untuk menjaga Kebersihan, tidak mengadakan keramaian baik hajatan,  pernikahan dll, menghindari kegiatan yang tak terlalu penting di luar rumah, tidak melakukan perjalanan keluar desa kecuali keadaan yang sangat penting, bagi anggota keluarga yang datang dari luar kota untuk melapor kepada pemerintah desa dan kesehatan/puskesmas, tidak melakukan salaman / kontak badan kepada  orang yang baru datang dari luar kota, dan menutup kalangan (Pasar Minguan)  untuk sementara waktu.

Pemerintah Desa juga mengajukan permohonan bantuan dalam penanggulangan wabah  COVID 19 kepada perusahaan2 disekitar desa Sakosuban. Bantuan yang diupayakan pemerintah desa adalah APD yang lengkap untuk tenaga kesehatan, Thermo gun, masker, Handsanitizer, Alat penyemprot Desinfektan bagi masyarakat desa, terlebih dan yang paling utama adalah permohonan bantuan sembako. Karena sebagai desa yang terisolir, dalam keadaan normal pun sebelum wabah, kebutuhan dan persediaan sembako didesa sakosuban sangat minimal. Hanya ada 4 toko kelontong didalam desa untuk pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat desa. Selebihnya masyarakat dapat membeli langsung pada saat pasar kalangan setiap hari rabu, yang diadakan didesa tetangga, desa Simpang Dayung dengan menepuh perjalanan ekstrem kurang lebih 2 jam perjalanan. Untuk pemenuhan kebutuhan yang lebih besar lagi masyarakat mendapatkannya dengan membeli di bayung lencir atau sungai lilin.

Disekitar desa sakosuban banyak terdapat perusahaan2 yang bergerak dibidang tambang (Batubara, Minyak dan Gas Alam), HTI, Sawit dan Konservasi alam. Diantaranya PT SBB, PT BPP, PT Conoco Philips dan ReKI dll.  Namun permohonan bantuan yang telah diajukan oleh pemerintah desa, sampai saat ini menurut informasi dari BPD Desa Sakosuban, belum ada yang terealisasi, baik bantuan APD berupa masker, Handsanitizer, penyemprotan Desinfektan ataupun Sembako, sehingga masyarakat ‘dipaksa’ mandiri dalam menyikapi dan menanggulangi  isu serta dampak dari wabah COVID 19.

Kegiatan Pencegahan Pandemi di Desa

Informasi tentang virus Covid-19 ini telah sampai ke masyarakat melalui media televise dan media social. Pada akhir bulan maret dimulailah kegiatan antisipasi dalam hal pencegahan wabah virus ini dimana kegiatan ini melibatkan pemuka masyarakat, BPD dan pemerintahan desa.  Contohnya di Desa Kepayang  kegiatan penganannya adalah memantau pergerakan masyarakat yang masuk dan keluar dari desa. Pos polisi air (Airud) di kepayang di jadikan pos pemeriksaan masyarakat yang baru masuk ke Desa Kepayang yang melalui sungai dan satu pos lagi di dusun III Aspa untuk kendaraan yang masuk melalui darat.  Pihak Pemerintah Desa sendiri menyusun proposal bantuan ke perusahaan yang ada sekitar desa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − thirteen =