Skema Insentif Bio-rights

Skema insentif Bio-rights pertama kali dikembangkan oleh Wetlands International, Alterra Green World Research dan sejumlah organisasi terkait di akhir tahun 1990-an. Pendekatan ini dikembangkan sebagai respon terhadap berbagai permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan yang sangat kompleks sehingga sulit diatasi dengan menggunakan pendekatan pengelolaan sumberdaya alam secara konvensional (Eijk dan Kumar, 2008). Skema Bio-rights hadir sebagai alternatif solusi yang bertujuan untuk menggabungkan pengentasan kemiskinan dengan konservasi lingkungan.

Bio-rights merupakan skema insentif yang hampir serupa dengan sistem ‘Pembiayaan untuk Jasa Lingkungan’ (Payments for Environmental Services/ PES). Dalam pelaksanaannya, skema ini melalui tiga tahapan utama yang menekankan pada keterlibatan masyarakat.

  • Tahap 1. Pengalokasian dana pinjaman berupa kredit mikro kepada masyarakat yang dapat digunakan untuk mengembangkan kegiatan untuk menciptakan pendapatan secara berkelanjutan.
  • Tahap 2.  Pengembalian  dana

pinjaman beserta bunganya bukan dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk pelayanan konservasi lingkungan, seperti kegiatan penghijauan kembali, perlindungan habitat dan penggunaan lahan secara lestari.

  • Tahap 3. Jika kegiatan terkait upaya konservasi lingkungan (tahap 2) berhasil, maka dana pinjaman (kredit mikro) akan diubah menjadi bantuan (hibah murni) yang selanjutnya akan digulirkan kepada anggota masyarakat lain untuk pembangunan berkelanjutan.