Salah satu keunggulan utama dari pendekatan Bio-Rights adalah terbentuknya pola pikir di masyarakat bahwa apa yang mereka rintis, gagas dan lakukan bersama adalah seluruhnya untuk kepentingan mereka bersama dalam jangka panjang yang berkelanjutan.

Hutaninstitute.or.id    Dalam dekade terakhir ini, Bio-rights telah berubah dari sebuah inisiatif rintisan berskala sangat kecil menjadi sebuah alat utama untuk menggabungkan pengentasan kemiskinan dengan konservasi lingkungan. Langkah pertama (rintisan) pengembangan Bio-rights di  indonesia diambil Wetland internasional melalui kerjasama dengan beberapa LSM lokal di Jawa Tengah (Indonesia), sebagai respon atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menyatukan tujuan-tujuan konservasi dan pembangunan lokal.

Dalam skala yang sama, Tropical forest conservation action (TFCA) mendanai Konsursium Bentang Alam Sembilang Sumsel  (KiBASS) yang mengadopsi pendekatan Bio-rights bekerjasama dengan masyarakat Sekitar Bentang Alam Sembilang dalam melakukan restorasi lahan gambut dan lahan Mangrove di  sekitar desa yang berdekatan maupun didalam Taman Nasional Berbak  Sembilang, bejar dari Kegiatan-kegiatan Bio-rights yang di lakuka Wetland internasional  dimana di negara Mali awalnya fokus pada kelompok perempuan, yang merupakan instrumen pelengkap dalam  penangkapan dan perdagangan puluhan ribu burung air migrasi. Hal ini memiliki nilai konservasi yang tinggi di Eropa, tetapi hanya mewakili sedikit nilai ekonomi di pasar lokal di Mali. Dengan memberikan alternatif-alternatif bagi penagkapan burung serta dengan melatih anggota masyarakat untuk menjadi penjaga wilayah lahan basah, Wetlands International bersama dengan LSM dan pemerintah setempat telah berhasil menurunkan tekanan perburuan di Inner Niger Delta. Dalam proyek-proyek lanjutan di wilayah tersebut, masyarakat setempat menerima dukungan pembangunan untuk restorasi hutan lahan basah (flood forest) dan padang rumput dataran banjir (flood plain grasslands).

Keberhasilan rintisan-rintisan ini telah meningkatkan skala pendekatan Bio-rights. Di bawah proyek Green Coast sebagai respon terhadap tsunami, Bio-rights berfungsi sebagai sebuah alat penting untuk melibatkan masyarakat lokal dalam merestorasi wilayah pantai yang diterjang oleh tsunami pada tahun 2004. Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias (Sumatera, Indonesia), tidak kurang dari 70 proyek Bio-rights diterapkan dengan menggunakan sebuah skema bantuan kecil (small grants) yang dibentuk dalam proyek tersebut. Demikian juga, dalam Proyek Lahan gambut Kalimantan Tengah (Central Kalimantan Peatland Project / CKPP) dan Proyek Lahan Basah dan Pengentasan Kemiskinan (Wetlands and Poverty Reduction Project / WPRP), Bio-rights memainkan peran utama (informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.wetlands.org.)

Konsep program kali ini yang dilakukan TFCA-KiBASS di Bentang Alam Sembilang  pada Skema Bio-Rights digunakan sebagai suatu pendekatan mekanisme finansial inovatif untuk menangani permasalahan kemiskinan yang dikaitkan dengan isu kerusakan lingkungan, dengan cara memberikan dukungan bersyarat bagi masyarakat lokal yang berada di sekitar bentang alam sembilang  kususnya dalam kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS). Pendekatan tersebut merupakan skema pembiayaan bagi masyarakat lokal sebagai kompensasi terhadap keterlibatan mereka dalam kegiatan pelestarian dan restorasi lingkungan di TNBS.