Sosialisasi SOPs dan EWS di Musi Banyuasin

0
19
Sosialiasasi_SOPs_&_EWS_di_MUBA. Foto: Yusri Arafat/HaKI

Kebakaran hutan dan lahan berdasarkan penelitian, 99,9% adalah ulah manusia dan 1% disebabkan oleh bencana alam. Misalnya pembakaran sampah kemudian ditinggalkan, disengaja misalnya pembakaran lahan untuk membuka kebun karena merupakan kebiasaan nenek moyang.

Syaifudin mewakili Badan Penanngulangan Bencana Daerah (BPD) Provinsi Sumatera Selatan  mengungkapkan hal tersebut dalam  acara  Focus Group Discussion (FGD) Sosialisasi  Standar Operating  Prosedures (SOPs) dan Erly Warning System (EWS) di Sekayu, (9/9/2017).

Konsep dasar penanganan satgas karhutla Provinsi  Sumatera Selatan dari rapat Koordinasi Presiden tentang pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan yang kemudian turun ke Gubernur dan dikeluarkanlah SK gubernur tentang status siaga tingkat provinsi dan di kabupaten turun lagi pada status siaga tingkat kabupaten. Kejadian kebakaran bukan hanya di kabupaten tetapi lebih banyak di desa. Pemadaman api sendiri selain dilakukan lewat darat dan  lewat udara dengan pesawat water bombers.

“Jika koordinasi sudah berjalan dengan baik, yang menjadi koordinator BPBD instansi lain mendukung dalam hal pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan baik yang terjadi ditingkat provinsi maupun sampai ke tingkat kabupaten dan desa, “ jelas Syaifuddin.

Dari informasi yang didapat, kata Syaifuddin, pola benang dalam pembakaran hutan dan lahan dapat dilihat dari jejak karhutla yang lurus seperti benang yang jika ditarik. Pola gelas air mineral cup, dapat dilihat dengan bentuk lahan bekas terbakat yang berkelompok membentuk seperti gelas air mineral, dan pola tikus dengan penangkapan tikus dibakar dan dilepas ke hutan menyebabkan kebakaran.

“Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan hutan dan lahan tahun 2016 telah dilakukan tentunya Pendirian posko contohnya Musi Banyuasin (MUBA), Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir (OI), pemadaman dini jika ada kebakaran, penyebarluasan maklumat Kapolda Sumsel, percepatan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca water bombing melalui pesawat udara dan   pemasangan  pengurangan kabut asap, Surat Edaran kepada Kepala Daerah Kab/kota rawan Karhutlah serta Karhutla  sosialisasi, patroli, ground cek  dan pemadaman dini   Manggala  Agni, BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten, Dishut, Pol PP dan TNI/Polri. Cara penanganan lahan gambut diantaranya dengan teknologi bios 44 dari korem yang saat ini digadang-gadang oleh Korem 88 untuk diberikan kepada masyarakat secara gratis,” ujar Syaifuddin.

Gendro Humas KMPA,  menyampaikan tentang kesulitannya dalam melakukan komunikasi karena jarak dan alat komunikasi, sarana dan prasarana yang belum memadai, bagaimana instansi dapat memberikan jalan keluar  dalam pencegahan dini karhutla.  Sementara selama ini proses komunikasi yang dilakukan oleh KMPA Bromo Sakti sendiri menggunakan HP tetapi sinyalnya lemah.

KMPA Bromo Sakti Desa Muara Merang Dusun Pancuran hanya mempunyai HT 2, satu untuk di bawa kelapangan satu dan satu di posko, menyebabkan komunikasi sulit. KMPA melaporkan kegiatan patroli yang telah dilakukan kemana? Masih dalam kebingungnan dalam hal melaporkan kegiatan yang telah dilakukan. Sekedar informasi juga bahwa ada salah satu anggota KMPA  saat ini telah mengikuti diklat paralegal di Pekan Baru, Riau.

“Untuk sarana hanya punya mesin mini straker, permasalahan dalam hal suplai air ke lokasi, selama ini kami menggunakan jet suter tetapi kurang episien. Mesin steam motor cukup efesien untuk pemadaman dengan penampung air. Alat steam ini tekanannya cukup jauh. Dalam menghadapi kendala kegiatan patroli karhutla,   ketika melakukan patroli , sedapat mungkin menyisihkan uang insentif patroli untuk menutupi kegiatan yang lain,” ungkap Gendro.

Pihak KPH Meranti  telah melaksanakan prosedur dalam melaksanakan patroli setiap hari, kami mendapatkan pantauan hotspot dari lapan. Jika misalnya ada hot spot yang terpantau akan bersama ke kantor akan melakukan koordinasi dan ground cek. Pelaporan menggunakan via  WA dibantu Manggala Agni. Untuk alat-alat masih dibantu dengan Manggala Agni. Pemantauan hot spot dibandingkan tahun sebelumnya, pantauan hot spot masih bisa di pantau, setiap harinya hanya satu atau dua hot spot yang trdeteksioleh KPH.

Syaifudin menanggapi tentang KPH Meranti ini sendiri berada dalam kawasan Hutan Mineral, seperti yang kita ketahui bahwa di hutan mineral sebesar apapun apinya akan bisa di padamkan. Informasi titik api menggunakan lapan. Ada aplikasi di android yang menunjukkan titip api di Sumsel. Namun konfidensnya masih perlu di cek lagi kebenarannya.

Selvita, Dinas Lingkungan Hidup MUBA mengungkapkan,  Dinas Lingkugan Hidup lebih pada pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan ada dua penyebab lebih banyak karena faktor manusia itu sendiri, untuk di lahan gambut lebih kepada sistem konservasinya agar lahan gambut tidak kering. Terkendala dalam hal data tentang kehutanan. Untuk koorndinasi hot spot belum ada.

Modifikasi Peralatan

Menurut Deddy, modifikasi alat, motor sifatnya tidak permanen mungkin lebih murah dalam jangka waktu yang sempit ini kita akan membantu alat-alat yang memang dibutuhkan dilapangan. Peralatan motor modifikasi sifatnya tidak permanen, satu paket alat pemadaman modifikasi paket 50 jt. Paket dari provinsi masih menggunakan alat-alat lama.

Namun , menurut Syaifudin  alat telah bagus untuk motor modifikasi bagus, Cuma  akses untuk kelahan gambut masih cukup sulit. Pernah ada merombak mesin, masih mesin hisap robin tetapi motornya panas. Alat-alat modifikasi ini digunakan untuk api yang masih dalam jangkauan atau api kecil kemudian dengat dengan akses air, tetapi di api besar tidak mencakup. Ada juga pemadaman menggunakan pompa apung yang dimodifikasi menggunakan pipa, pompa apung tersebut di hanyutkan di saluran air.

“Saat ini , alat yang kami gunakan salah satunya menggunakan pipa paralon yang di buat seperti banana bot di letakkan di kali dan ditarik,” kata Syaifuddin.

Erwan Efendi dari Dinas Perkebunan MUBA, menjelaskan bahwa Dinas Perkebunan telah membentuk Kelompok Tani Peduli Api (KTPA). Setiap ajuan dari masyarakat tetap di ajukan, kendala topografi daerah Muba yang beranekaragam sehingga menyebabkan kesulitan. KTPA di usulkan dibantu dalam 4 bulan. Dinas kehutanan lebih digali yang mempunyai kepedulian terhadap kebakaran kebun dan lahan.

“Kita bantu sarana dan prasarana bukan oprasional dalam bentuk proses hiba. KTPA lebih di prioritaskan pada lahan perkebunan yang rawan kebakaran.Masalahnya bukan pada teknologi tetapi kesadaran terhadap masyarakat, tetapi program pembukaan lahan tanpa bakar, perencanaan, kemampuan finansial. Merubah mind set masyarakaat adat sosialisasi jika masyarakat membakar terkena sanksi dan sampai saat ini masih dijalankan mengurangi pembakaran lahan dan kebun,” ujar Erwan. (WR)

LEAVE A REPLY

*