Kelembagaan Resolusi Konflik dan Perhutanan Sosial Wujud Nyata untuk mendukung Program Sustainable Landscape di Sumatera Selatan

Degradasi lahan dan Deforestasi Hutan yang terjadi di wilayah Kelola Sembilang-Dangku disebabkan oleh penebangan hutan, perambahan, kebakaran dan perkembangan perkebunan komersial. Hal ini disebabkan karena mayoritas masyarakat disana masih hidup dibawah garis kemiskinan Ungkap Aidil.

0
687
Aidil Fitri saat memaparkan presentasi di World Conservation Congress, Honolulu Hawai

Hutan Kita Institute, Kongres konservasi tingkat dunia (World Conservation Congress/WCC) 2016 yang diselenggarakan International Union for the Conservation of Nature/IUCN yang digelar dari Tanggal 1 – 10 September di Honululu, Hawai bertujuan untuk menyusun inisiatif-inisiatif konservasi dan pembangunan berkelanjutan di masa mendatang.

Hutan Kita Institute (HaKI) sebagai lembaga yang perhatian terhadap permasalahan konflik sosial dan pengembangan perhutanan sosial juga turut serta sebagai salah satu delegasi dari Indonesia.

Pada Acara WCC ini HaKI yang diwakili oleh Direktur Eksekutif, Aidil Fitri mengangkat Isu “Pentingnya Hak Masyarakat sebagai prasarat wilayah pengelolaan landscape di Sumatera Selatan, misalnya di wilayah kelola landscape Sembilang – Dangku”

Seperti diketahui wilayah landscape Dangku merupakan wilayah kelola yang diprakarsai oleh Zoological Society of London (ZSL) dan didanai oleh Pemerintah Norwegia melalui Norwegia International Climate and Forest Initiative (NICFI) Pemerintah Inggris melalui Perubahan Iklim Satuan British Embassy UK (UKCCU) dan David and Lucile Packard Foundation.

Degradasi lahan dan Deforestasi Hutan yang terjadi di wilayah Kelola Sembilang-Dangku disebabkan oleh penebangan hutan, perambahan, kebakaran dan perkembangan perkebunan komersial. Hal ini disebabkan karena mayoritas masyarakat disana masih hidup dibawah garis kemiskinan Ungkap Aidil.

Sesi Tanya Jawab yang berlangsung setelah pemaparan Materi Landscape Sembilang Dangku di Acara WCC, Hawai
Sesi Tanya Jawab yang berlangsung setelah pemaparan Materi Landscape Sembilang Dangku di Acara WCC, Hawai

Satu hal yang terpenting 36 % Wilayah kelola Sembilang – Dangku merupakan wilayah Gambut yang berfungsi sebagai penyimpan karbon dan mudah terbakar di musim kemarau tambah Aidil.

“Untuk mendukung Wilayah Kelola landscape Sembilang- Dangku perlunya penyelesaian konflik SDA disertai leadership yang kuat, Pak Gubernur sudah menyampaikan komitmen social dan lingkungan, hanya saja perlu dipastikan bagaimana bisa dioperasionalkan di lapangan, tanpa leadership yang kuat hal tersebut sulit dicapai” Ujar Aidil.

“Pak Gubernur (Alex Noerdin ) perlu segera membentuk kelembagaan resolusi konflik dan layanan perhutanan social di daerah sebagai bentuk implementasi dari komitment tersebut” Jelas Aidil Pada Acara WCC 2016 tersebut.

 

LEAVE A REPLY

*